Di sebuah desa kecil hiduplah seorang petani apel yang sangat bangga pada kebunnya. Setiap musim panen, pohon-pohonnya dipenuhi buah merah yang manis dan sempurna.
Dan setiap kali melihatnya, hatinya terasa damai. Namun suatu pagi, saat berjalan bersama anjingnya, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Di puncak pohon terbaiknya tergantung satu apel yang busuk, hanya satu, tapi pikirannya langsung dipenuhi ketakutan.
Jika itu menular, seluruh panenku akan hancur. Ia mengambil tongkat panjang dan mencoba menjatuhkannya, namun tongkat itu terlalu pendek.
Beberapa apel matang justru jatuh dan hancur di tanah. Ia mencoba lagi. Kali ini dengan ketapel. Ia membidik dengan serius. Tapi tembakannya meleset.
Lagi-lagi, apel yang sehat jatuh. Frustrasinya tumbuh. Ia mencoba mengguncangkan pohon itu. Namun apel busuk itu tetap menggantung.
Sementara buah-buah indah lainnya berjatuhan dan rusak. Hari demi hari, ia tak bisa berhenti memikirkan satu apel itu.
Ia mencoba untuk mencoba. Ia tak lagi menikmati kebunnya, tak lagi bersyukur atas ratusan buah yang sehat.
Pikirannya hanya dipenuhi satu hal, bagaimana cara menyingkirkannya. Sampai suatu hari dalam kemarahan, ia mengambil gergaji mesin. Jika perlu, akan kupotong saja cabangnya.
Namun saat ia mendekat, ia terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat pohonnya. Dan hatinya jatuh.
Sebagian besar apel yang indah sudah tidak ada. Bukan karena penyakit, bukan karena hama, tapi karena dirinya sendiri. Dalam obsesinya pada satu apel busuk, ia telah menghancurkan hampir semua apel yang baik.
Dan saat itu ia sadar, terkadang dalam hidup kita terlalu fokus pada satu kesalahan, satu kegagalan, satu orang yang menyakiti kita, sampai kita lupa melihat semua hal baik yang masih ada.
Kita sibuk memperbaiki satu luka hingga merusak seluruh kebahagiaan. Padahal mungkin yang perlu kita lakukan bukan mengguncang pohonnya, tapi berhenti sejenak dan melihat bahwa masih ada begitu banyak buah yang manis.
Hari ini, jangan biarkan satu apel busuk menghancurkan seluruh kebun hidupmu. Karena kadang untuk merasa kaya kembali, kita hanya perlu melihat pohon kita dan menghitung apel-apel yang masih baik.

11 Komentar
Fokus pada satu kesalahan, sampai kita lupa semua kebaikan yang ada, ciri orang yang berpikir positif. Hallo Mas Bro, apa kabarmu. Masih asik nulis aje ne bosku...
BalasHapusBetul pak Guru.😁😊
HapusAlhamdulilah sehat pak Guru, Pak guru juga apa kabarnya nih, Semoga sehat selalu juga. Wah baru kelihatan lagi nih.😁😊🙏
Nasehat yang indah
BalasHapusIni sering terjadi dalam kehidupan sehari hari
Senangnya masih bisa bertamu di rumah megah ini
Meski pohon apel sudah habis musim panen masih ada pohon pisang di belakang rumah tuh hehe
Betul mbak, Apa kabar mbak May, Lama nih jarang kelihatan sekalinya datang postingan blognya sudah banyak cerita2 baru yang menarik.😁😊Semangat terus mbak.👏👍👍
HapusIntinya jangan sampai karena satu hal buruk maka hal baik lainnya jadi diabaikan ya pak ustadz. Terimakasih tausiah nya di bulan Ramadhan ini.😀
BalasHapusBetul Bib..Ok sama-sama Pak Habib.🙏🙏
HapusAssallamuallaikum bos Satria
BalasHapusHehe lupa cara posting
Lupa cara BW
Alhamdulillah pelan pulih lagi ingatan
In sya Allah masih semangat bos bermata biru 😁
pelajaran hidup yang penuh arti kang, semoga saja kita biza meniru apa yang baik dari csrita di atas :)
BalasHapusAlhamdulillah mas Satria. Kisah yang sangat menginspirasi.
BalasHapusHikmahnya adalah, sebisa mungkin sedia galah yang panjang di rumah. Jadi kalo mau ambil apel busuk, bukannya malah kesenggol apel yang lain. Begitu kan? hehehehe
beneran fokus pada kesalahan itu malah bisa membuyarkan semuanya
BalasHapusmantep inti cerita apel ini
Ini sama dengan perumpamaan titik hitam di atas kertas putih ya mas. 1 kejelekan, ga kliatan semua yg bagus2 lainnya 😄. Ruginya berlipat ganda, kehilangan apel2 yg sehat
BalasHapus