Mengapa orang miskin sulit menjadi kaya? Jawabannya terletak dalam empat kisah kecil berikut ini.
Cukup pahami satu kisah saja, Anda akan tercerahkan satu tingkat.
Kisah pertama, Budi sangat miskin hingga tidak memiliki apapun. Seorang kerabat merasa kasihan, lalu memberinya seekor sapi dan berpesan, Gunakan sapi ini untuk membuka lahan tahun ini.
Tahun depan kamu sudah bisa panen bahan makanan. Budi menuruti nasihat itu dan membawa sapi ke ladang.
Tetapi tidak lama kemudian, ia merasa hidupnya justru lebih berat dari sebelumnya. Dulu ia hanya perlu memikirkan makan untuk dirinya sendiri.
Sekarang harus memberi makan seekor sapi juga. Ia pun mendapat ide. Domba berkembang biak lebih cepat daripada sapi. Lebih baik menjual sapi untuk ditukar dengan domba.
Keesokan harinya ia menjual sapi, membeli dua ekor domba. Lalu menyembeli satu untuk dimakan dan menyisakan satu lagi untuk berkembang biak.
Namun sebelum domba itu sempat beranak, daging sudah habis, hidupnya kembali serba kekurangan. Ia lalu memikirkan cara bagus lain.
Menjual domba dan membeli sekawanan ayam. Karena ayam bertelur lebih cepat, tetapi hidupnya tetap tidak membaik.
Ketika hanya tersisa seekor ayam betina terakhir, dengan putus asa ia berpikir, Sudahlah, jual saja ayam ini. Beli arak untuk diminum, agar lupa pada hidup.
Musim semi tahun berikutnya, sang kerabat membawa benih tanaman dan melihat budi mabuk tergeletak tidur di rumah, kandang sapi sudah kosong. Sang kerabat menghela napas panjang lalu pergi.
Kisah ini mengatakan bahwa jika seseorang tidak mampu mengendalikan keinginan dan tidak memiliki rencana yang masuk akal, maka meskipun kekayaan jatuh dari langit, kini pada akhirnya hanya akan habis dimakan dan lenyap.
Kisah kedua, ada seseorang yang ingin memiliki tanah. Sang Tuan Tanah berkata, Pagi-pagi kamu berlari dari sini keluar, setiap jarak tertentu tancapkan sebuah bendera. Sebelum matahari terbenam, kamu harus kembali. Seluruh tanah yang ditancapi bendera akan menjadi milikmu.
Orang itu berlari mati-matian. Meskipun ia sudah memiliki sangat banyak tanah, Ia masih ingin berlari sedikit lebih jauh lagi.
Saat matahari terbenam, ia tidak kembali. Orang lain menemukannya sudah meninggal karena kelelahan di tengah jalan.
Kisah ini mengatakan bahwa kamu mengira dirimulah yang memiliki harta, padahal sebenarnya harta itulah yang mengendalikanmu. Keserakahan berlebihan hanya membawa dampak sebaliknya.
Lalu kisah ketiga, seorang pengemis bertanya kepada orang yang lewat, bisakah Anda memberi saya dua telperak? Orang itu hanya memberikan satu tayel dan berkata, saya hanya punya segini.
Pengemis itu menjawab, kalau begitu Anda masih berhutang satu tayel kepada saya. Kisah ini mengatakan bahwa kebaikan harus diberikan kepada orang yang tepat.
Ada orang yang keserakahannya telah menggantikan rasa syukur. Seberapapun kamu memberi, mereka tetap merasa kamu kurang.
Kisah keempat, seorang tukang kayu menebang sebatang kayu dan membuatnya menjadi tiga tong. Satu tong berisi kotoran, disebut tong kotoran, semua orang menghindarinya. Satu tong berisi air, disebut tong air, semua orang menggunakannya.
Satu tong berisi arak, disebut tong arak, semua orang menikmatinya. Tongnya sama, tetapi isi di dalamnya berbeda, maka nasibnya pun berbeda.

0 Komentar