Hujan deras mengguyur kota Surabaya sore itu, menciptakan aroma tanah basah yang menyusup hingga ke dalam kedai kopi kecil di sudut jalan. Di balik kaca yang berembun, Andini menggenggam cangkir kafenya rapat-rapat. Matanya menatap sosok pria yang duduk tepat di depannya, Dias. Pria dengan senyum hangat, tatapan teduh, dan perhatian yang selalu berhasil membuat dada Andini berdegup tak karuan.
Namun, ada satu kenyataan pahit yang mengunci rapat bibir Andini. di jari manis Rian melingkar sebuah cincin pernikahan. Dan wanita yang bertengger manis di samping Dias dalam foto latar belakang ponsel pria itu adalah Della, sahabat terbaik Andini sejak masa sekolah.
Semua bermula dari kebaikan-kebaikan kecil Dias. Sebagai suami dari sahabatnya, Dias selalu bersikap ramah dan menganggap Andini seperti adiknya sendiri. Dias adalah tipe pria yang selalu ingat membawa oleh-oleh tambahan saat pulang dari luar kota, pria yang tanpa ragu datang membantu mengganti ban mobil Andini yang bocor di tengah malam, dan pria yang mendengar keluh kesah dengan ketulusan yang luar biasa.
Tanpa disadari, rasa kagum yang awalnya wajar perlahan membusung menjadi benih cinta yang terlarang. Andini membenci dirinya sendiri setiap kali rasa itu hadir. Ada rasa bersalah yang teramat sangat setiap kali Della memeluknya, menceritakan betapa beruntungnya ia memiliki Dias sebagai suami. Andini merasa menjadi penjahat terbesar dalam hidup sahabatnya sendiri.
"Kamu melamun lagi, Din?" suara Dias memecah lamunan Andini. Pria itu menyodorkan selembar tisu. "Della bilang tadi kamu kurang sehat, makanya dia minta aku mampir sebentar buat nganterin sup hangat yang dia masak."
Andini menatap kantong plastik berisi wadah makanan yang diletakkan Dias di atas meja. Rasa hangat sekaligus perih menjalar di dadanya. Della selalu begitu baik, begitu tulus merawat persahabatan mereka. Bagaimana bisa Andini menyimpan perasaan pada pria yang dicintai oleh orang yang begitu mengasihinya?
"Terima kasih, Dias. Dan... sampaikan terima kasih banyak buat Della," Ujar Andini, berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar terkesan biasa.
"Kamu harus jaga kesehatan, Din.. Della selalu khawatir kalau kamu sakit. Dan jujur... aku juga," tambah Dias pelan, menatap Andini dengan ketulusan seorang sahabat.
Kalimat terakhir itu menghantam dada Andini dengan keras. Ia tahu, Dias tidak bermaksud memberikan harapan palsu. Dias adalah pria jujur yang sangat mencintai istrinya. Perhatian itu murni bentuk kepedulian atas nama persahabatan mereka bertiga.Andini-lah yang salah karena telah mengartikan kebaikan itu secara berlebihan.
Hari itu, saat Dias berpamitan dan melangkah keluar menuju mobilnya di bawah derasnya hujan, Andini akhirnya mengambil keputusan. Ia sadar, membiarkan perasaan ini terus tumbuh sama saja dengan menanam bom waktu yang siap menghancurkan kehidupan tiga orang sekaligus.
Cinta tidak pernah bisa disalahkan saat hadir, tetapi tindakan untuk memeliharanya adalah sebuah pilihan. Dan Andini memilih untuk menjaga kehormatan persahabatannya.
Beberapa minggu kemudian, Andini mengajukan kepindahan tugas ke kantor cabang luar kota. Ketika Della menangis memeluknya di bandara dan Dias tersenyum melepas kepergiannya, Andini tahu bahwa keputusan ini berat, namun benar. Ia melangkah masuk ke dalam ruang tunggu penerbangan dengan hati yang pasrah. Ia memilih merelakan rasa yang tak pernah boleh memiliki, demi menyelamatkan kebahagiaan sahabat yang paling dicintainya.



2 Komentar
Saya pikir Andini bakal ngotot merebut hati Dias, eh ternyata dia mundur teratur.
BalasHapusTakut Dia Huu.. Bisa Jadi Badai katanya.🤣🤣🤣
Hapus